Cover Buku Capruk for the Soul #1

Tulisan oleh: Husnan Nurjuman, Angkatan 14 Putra (1991-1997)

Tahukah Anda, apakah yang lebih mendebarkan daripada tampil untuk pertama kali memberikan ceramah di hadapan lebih dari 300-an orang? Mungkin itu hal biasa jika Anda seorang mubaligh atau orator dalam suatu aksi unjuk rasa…tapi bagaimana jika Anda seorang pelajar kelas tiga SMP, atau kelas satu SMU? Harus tampil di hadapan massa yang sebagian lebih senior atau lebih pintar dari Anda, dan sebagian lagi adalah kelompok yang tidak boleh melihat kebodohan Anda karena satu langkah bodoh akan membuat Anda menjadi bahan olok-olok selama kegiatan bahkan bisa jadi sepanjang tahun. Lebih hebatnya lagi, ceramah bukan disampaikan dalam bahasa Indonesia atau bahasa ibu Anda… tapi dengan bahasa Arab, bahasa yang tidak biasa kita dengar ketika nonton box office di televisi atau menyimak musik jazz di radio.

“Ayuhal haadliruunal muttaquun… hayyambinaa nasykurullaaha qad a’tha’na ni’matal iimaan wal islaam hattaa nastathii’a an najtami’a fii haadzal makaan al mubaarak… shalaatan wa salaaman daaimaini mutalaazimaini… dst.” Demikian kalimat pembuka yang klise terdengar tiap usai shalat subuh pada masa Tadrib. Tadrib itulah nama kegiatan rutin yang mengurangi jatah liburan santri Darul Arqam Muhamadiyah Garut. Masih belum puas melepas jenuh setelah berbulan–bulan terlibat dalam rutinitas 14 jam pelajaran sehari yang diakhiri dengan ujian. Masih belum sempurna melepas rindu dengan orang tua, saudara dan kawan–kawan lama, kita harus mengakhiri libur panjang lebih awal untuk kegiatan Tadrib.

Betapapun demikian, namun tidak ada santri yang melewatkannya. Semua tetap mengikuti rangkaian kegiatan serba Bahasa Arab itu. Dimulai dengan parade ceramah Subuh berbahasa Arab, berbagai kegiatan belajar di kelas dengan Bahasa Arab bahkan cerdas-cermat/cepat-tepat dengan Bahasa Arab. Semua dengan nuansa kompetisi yang menyenangkan. Memang perlu dikaji lebih lanjut, mengapa santri Darul Arqam begitu menyukai berbagai kegiatan yang bersifat kompetisi. Selain Tadrib, ada juga kegiatan kompetisi lain seperti “Muharraman”, Cepat-tepat antara Putera dan Puteri bagi santri kelas tiga dan lain sebgainya. Mungkin karena jadwal belajar yang padat, maka kompetisi yang memicu adrenalin menjadi alternatif penyegaran suasana yang signifikan menggembirakan suasana.

Dari sekian rangkaian kegiatan tadrib, menurut saya, parade ceramah subuh berbahasa Arab merupakan bagian yang paling bergengsi, terutama bagi perorangan. Disitulah tempat pembuktian kemampuan semua orang sebagai santri. Bisa tampil sebagai mubaligh yang menyampaikan pesan ajaran Islam dengan bahasa tempat ajaran Islam itu berasal. Tentu, tampil dalam parade ceramah subuh tersebut bukanlah suatu hal yang tanpa persiapan. Setiap santri menyiapkan teks pidato yang akan disampaikan, meski pada umunya teks itu standar dengan tema dan redaksi yang sudah umum pula. Mereka menghapalkan dan melatihnya berulang–ulang sebelum tampil, memastikan tidak ada salah ucap dan salah gaya ketika tampil. Sekali lagi, kesalahan di panggung ceramah akan mengundang tawa hadirin dan olok–olok yang tiada ampun. Itulah gambaran yang paling menakutkan ketika akan tampil ceramah, terutama bagi orang yang merasa tidak memiliki bakat sebagai orator. Meski pada mulanya terasa menakutkan dan memompa adrenalin, pada kenyataannya kekahwatiran itu tidak selalu terbukti. Pada kenyataannya pula hampir semua santri dapat tampil dan melaluinya dengan baik bahkan santri yang terbilang pendiam dan pemalu sekalipun.

Jika ada yang mengatakan Pondok Pesantren Darul Arqam merupakan wahana kaderisasi ‘Ulama yang Intelek’ dan ‘Intelek yang Ulama’, maka Tadrib adalah salah satu kegiatan penting yang menopang visi itu. Ulama bukan hanya sebagai kelompok orang pintar pemegang otoritas halal dan haram, tapi kelompok utama yang menjadi pendamping, pembina, penyuluh, pengajar dan pendidik masyarakat yang harus dapat menyampaikan ajaran-ajaran Islam dengan kemampuan komunikasi yang baik. Dan Tadrib tidak hanya berperan sebagai forum kompetisi berbahasa Arab, tapi lebih jauh dari itu, adalah kesempatan pengalaman yang diberikan kepada semua santri (calon ulama) untuk dapat tampil di depan khalayak dengan segenap kemampuannya. Saat pertama tampil, selalu merupakan saat yang paling mendebarkan, meski sebenarnya itu bukan masalah besar. Namun setelah dapat melaluinya, maka kita memiliki keyakinan baru, percaya bahwa diri kita mampu tampil sebagai mubaligh dan penggerak perubahan masyarakat. Tadrib adalah kegiatan pembangun mental dan semangat untuk memulai. Memulai untuk meneguhkan jati dari sebagai bgaian dari kegiatan dakwah. Selalau ada saat pertama untuk semua hal.

Tulisan ini pernah dipublish di Capruk for the Soul Buku #1