Selasa, Oktober 27, 2020
Beranda blog

PRESS RELEASE: Kunjungan Kerja Presiden RI, IR. H. Joko Widodo ke Darul Arqam Garut

0

Presiden Republik Indonesia, Ir. H. Joko Widodo menurut rencana akan melakukan kunjungan kerja dalam rangka menghadiri Rapat Koordinasi Nasional Pondok Pesantren Muhammadiyah yang akan diresmikan pembukaannya di Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Garut pada tanggal 17 Oktober 2017.

Tema utama dari kunjungan ini adalah “Pesantren Muhammadiyah sebagai Pusat Kaderisasi Ulama untuk Indonesia Berkemajuan”. Saat ini, Muhammadiyah memiliki 200 pesantren yang tersebar di seluruh pelosok tanah air dan menjadi bagian tak terpisahkan dari keunggulan bangsa.

Selama kunjungan, Presiden RI di Pondok Pesantren Darul Arqam akan bertemu dengan 1.500 santri, dewan guru dan seluruh pengurus Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Garut, 250 delegasi peserta Rapat Kerja 200 pesantren Muhammadiyah se-Indonesia serta 1.000 tamu undangan dari berbagai Pimpinan Daerah dan Cabang Muhammadiyah se-Jawa Barat serta perwakilan sekolah negeri maupun swasta di Provinsi ini.

Presiden diterima oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. Haedar Nashir.

Pada akhir kunjungan, direncanakan Presiden akan melakukan Peletakan Batu Pertama Pembangunan Rumah Sakit Muhammadiyah Darul Arqam Garut. Hal ini merupakan komitmen Pesantren Muhammadiyah dalam mewujudkan Indonesia berkemajuan.

~Humas Rakornas Pondok Pesantren #Muhammadiyah 2017

(Foto: Suara Muhammadiyah)

Ikadampreneur: Living Basic Co. sebuah Indie Clothing Company

0

Living Basic co. adalah sebuah independent clothing company berbasis di Bandung. Lebih akrab disapa Living, produk unggulannya adalah henley shirt yang dikemas dengan tema minimalism for casual outfit. Didirikan pada bulan Juni tahun 2016 oleh Rifqi “Himin” Alfiana (Ikadam angkatan 29 Putra) dan Yuno Yuliantono dengan modal 3 juta rupiah, sampai saat ini Living dapat memproduksi dan menjual 200 pcs produk setiap bulannya. Bisnis ini didasari nekat karena mereka berdua tidak memiliki dasar pendidikan bisnis, bahkan keduanya berkuliah di jurusan teknik sipil. Kemauan dan semangat adalah dua hal yang melandasi berjalannya Living sampai saat ini.

Living didirikan karena Rifqi dan Yuno senang menggunakan henley shirt namun ingin membuat signature atau ciri khas henley mereka sendiri. Selain itu mereka melihat adanya peluang usaha karena saat ini belum ada brand yang mengangkat henley shirt sebagai produk utamanya. Maka dibuatlah Living Basic co. dengan harapan dapat menjadi “market leader untuk henley shirt di Indonesia”. Rifqi berharap apabila orang-orang mendengar kata Henley shirt maka akan langsung terpintas Living Basic co. Sampai saat ini best selling product adalah Basic LS Henley.

Produk unggulan living

Living mengutamakan tiga hal untuk setiap produknya: comfortable, elegant dan safe for your pocket. Pada seluruh produk Living, digunakan material yang sangat nyaman untuk aktivitas sehari-hari. Mereka pun sangat memperhatikan pemilihan dan kombinasi warna untuk setiap produknya. Mereka ingin produk Living terkesan santai namun tetap terlihat kece. Untuk pricing, Living mengincar kalangan menengah ke bawah. Living ingin menyuguhkan produk yang berkualitas dan nyaman tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam.

 

Untuk promosi, Living bekerja sama dengan creative industry people untuk memasarkan produk-produknya. Contohnya sepeti musisi, fashion blogger, youtuber dan designer. Rifqi percaya promosi terbaik adalah promosi dari mulut ke mulut. Dengan mengetahui kualitas produk Living, maka dengan sendirinya mereka akan merekomendasikan Living kepada teman dan keluarga mereka. Selain itu, Living memiliki marketers. Mereka adalah team yang membantu Living dalam segi direct selling. Marketer Living mayoritas adalah pelajar namun ada beberapa pula yang pekerja kantoran. Marketer membantu menjual barang Living kepada orang-orang terdekat mereka. Sampai saat ini Living baru memiliki belasan marketer loyal dan target Living di tahun 2017 ini memiliki 50 marketer loyal.

Creative industry people

Kedepannya Rifiq dan Yuno berencana meluaskan pemasaran Living dengan merambah ke toko-toko di kota besar di pulau Jawa. Dalam waktu dekat mereka berencana merambah produk-produk selain henley shirt untuk mendukung tema minimalism for casual outfit.

Biru Darahku: Bobotoh Persib dari Darul Arqam

0

Hidup PERSIB !!!

Dalam forum dunia maya, seringkali saya menemukan budak de-a (panggilan untuk santri pesantren di Darul Arqam Garut) yang fanatik dengan PERSIB. Di dunia nyata, saya pun seringkali menemukannya. Anda dan siapapun juga yang berkunjung ke stadion dan rajin melirik kiri-kanan sesekali akan menemukan anak de-a yang anda kenal. Insya Allah, hehe..

Entah kenapa dan sejak kapan hal itu dimulai, saya sendiri belum dapat menyimpulkannya. Tentu terdapat beragam alasan yang bisa menjelaskan kenapa anak de-a seperti ini. Namun yang menarik, sejak kapan fanatisme terhadap PERSIB berkumandang dan fanatisme tersebut “menjadi bernilai” di mata anak de-a? Nonton ke stadion dan ngabelaan bolos tikelas merupakan dua tolak ukur fanatisme yang saya kira bisa disepakati ketika itu. “Menjadi bernilai” disini saya definisikan sebagai identitas yang membedakan santri de-a yang satu dengan yang lainnya yang sama-sama fanatik PERSIB.

Berikut saya coba paparkan sedikit analisis sesuai data yang saya dapatkan.

Fanatisme budak de-a terhadap PERSIB sudah ada semenjak saya masih berstatus santri de-a. Rahman “Oray” Yusuf (angkatan 21 Putra, SALIKUR) dan Helmy (angkatan 19 Putra, BSW), saya sendiri merupakan santri angkatan 24 Putra, merupakan dua orang yang saya kenal memiliki fanatisme pada PERSIB. Bahkan pernah 1 kali saya bersama teman-teman angkatan 24 Putra lainnya nonton bareng ke Siliwangi bersama Rahman “Oray” Yusuf. Tidak menutup kemungkinan sebelum angkatan 19 telah ada budak de-a yang memiliki fanatisme seperti ini. Tinggal dicari dan dilengkapi datanya bagi yang mau meneliti. Sebagai catatan, nonton disini kabur dari de-a dengan berbagai cara. Setidaknya luncat ti pager mesjid dan mengelabui satpam jadi dua cara yang efektif menurut saya. Bukan nonton ketika libur, karena hal seperti itu dapat dilakukan siapapun.

“Menjadi bernilai”, menjadi sesuatu yang saya kira sulit untuk disepakati. Setidaknya “menjadi bernilai” disini saya sedikit reduksi menjadi nga-hit (menjadi populer, bahkan terkesan sengaja mencari popularitas), tidak lagi menjadi sebuah identitas yang melekat pada individu. Karena seperti itulah peta yang kemudian saya lihat di kemudian hari. Awalnya, “menjadi bernilai” merupakan sebuah identitas yang membanggakan buat diri sendiri (semacam menjadi identitas di tengah pencarian eksistensi remaja), meskipun banyak dicemooh orang lain. Hingga saatnya tiba . . . . . . Dan begini cerita itu dimulai . . .

Kang Irfan Amalee (santri angkatan 13 Putra, kakak kelas saya yang juga penggemar PERSIB) suatu hari membuat film dokumenter tentang santri de-a yang bolos sekolah demi nonton PERSIB di Jogja dengan judul “Biru Darahku”. Film dokumenter ini sempat ditayangkan saat launching pemain PERSIB beberapa tahun ke belakang di Bandung (kalau tidak salah saat zamannya Beckamenga dan Barkawi). Kang Irfan Amalee dan pemain film sekaligus “pelaku sejarah” diundang khusus pada acara itu. Film dokumenter tersebut terinspirasi dari tulisan Fakhri Abdul Rosyid (angkatan 25 Putra, SALAWE) yang lebih menginginkan jadi pemain, ofisial atau apapun yang berhubungan dengan PERSIB.

Sebelumnya, pada Bulan Ramadhan tahun 2006 M (kalau tidak salah) PR IRM (semacam OSIS di SMA Umum) Darul Arqam Putra & Putri angkatan 25 Putra dan 13 Putri mengadakan Program GERAM (Gema Ramadhan). Salah satu rangkaian acaranya ialah bedah buku dan diskusi buku Kang Irfan Amalee yang berjudul “Boleh Donk Salah”. Tanpa diduga dan disangka, Saya, Hilmy Yahya Ziaulhaq dan Roby Nugraha (sebenarnya ada seorang lagi pelaku sejarah, Muhammad Rizal, namun setahun lebih dulu meninggalkan kami di de-a dengan alasan yang saya juga kurang tau =)) diundang oleh IRM dan Kang Irfan Amalee untuk menjadi pembicara. Undangan kami terima via telpon. Kami pun terheran-heran dan bingung atas permintaan panitia, karena kami sebagai pelaku sejarah malu dan akan diperbincangkan lagi seantero de-a. Setidaknya ketika kami berempat di skorsing selama satu minggu karena ketahuan nonton PERSIB, kami menjadi buah bibir di setiap kelas, baik Putra maupun Putri. Belum lagi posisi kami yang ketika itu sedang melaksanakan PKL (Praktek Kerja Lapangan) di daerah Peundeuy dan Singajaya (jauh dari pesantren kami, setidaknya butuh waktu tiga jam).

Akhirmya kami bertiga berdiskusi via telpon dan menyepakati untuk menerima tawaran tersebut. Pertimbangan kami ialah dorongan Kang Irfan Amalee untuk merubah paradigma ustadz dan santi de-a saat itu. “Berawal dari kesalahan meuju kebenaran”. Setidaknya itu secuil kalimat kang Irfan Amalee yang mendorong kami hadir. Kemudian kami pun melobi Pembimbing PKL kami (Pak Amad Hidayat dan Ruhan Latief) untuk mendapatkan izin dan menghadiri undangan tersebut. Setelah semua ok, kami pun menunggu waktu yang telah ditentukan panitia.

Dimulai dengan pemutaran film dokumenter “Biru Darahku” yang berdurasi kurang lebih selama 15 menit, kami pun (Saya dan Hilmy, karena Roby tidak jadi ikut) jadi pembicara beserta kang Irfan. Moderator (Mazia) menanyakan beberapa hal terkait perilaku “abnormal” kami selaku santri. Tentu kami pun menjawab apa adanya tanpa ada yang disembunyikan. Sontak muka-muka “haseum” dari kalangan ustadz melirik kami, untungnya pembelaan kang Irfan meneguhkan hati kami dalam forum tersebut.

Setelah forum itu, nama kami makin banyak diperbincangkan di Putra. Juga di Putri, sesuai informasi yang kami dapatkan dari teman seangkatan namun berbeda kelamin tersebut. Dari sana sampai sekarang saya melihat PERSIB diperlakukan untuk menjadi ajang nga-hit. Padahal pada mulanya kami menonton karena hanya sekedar hobi, fanatisme dan tanpa terpikir bakal menjadi selebritas pondok. Tak pernah terlintas juga bahwa kami akan sedemikian nga-hitnya ketika itu. “Menjadi bernilai” pada mulanya, nga-hit pada akhirnya.

Demikian sepenggal kisah untuk berbagi dengan bobotoh lain yang memiliki pengalaman berbeda dan unik. Film dokumenter tersebut bisa di search di internet. Santri juga cinta PERSIB, dan selalu mendoakan supaya persib juara.

Salam,
Pipit Aidul Fitriyana (Ikadam 24 Putra)
Bobotoh Viking UIN Jakarta

DICARI 100 NASKAH PERTAMA UNTUK BUKUMU

0

Ada kabar baik datang dari bidang MPI PP Muhammadiyah terutama untuk rekan-rekan yang senang menulis dan bingung untuk menerbitkan naskahnya. Dengan program BukuMu, inilah programnya:

Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah kini sedang memersiapkan sebuah platform online publishing Bukumu.co.id. Platform Ini memunungkinan setiap Warga muhammadiyah menerbitkaan karyanya.
Setelah proses development system selama 6 Bulan, Bukumu akan segera diluncurkan.
Kami mengundang 100 Karya Penulis pertama dari warga Muhammadiyah untuk dipublish dan didisplay di Bukumu.co.id
👍 Manfaat
1. Buku akan dipromosikan dan dipasarkan secara digital dan POD.
2. Memiliki kesempatan untuk diterbitkan secara massal oleh penerbit besar (major publisher).
3. Karya Anda menjadi pelopor gerakan Muhammadiyah Menulis.
👉 Syarat:
1. Buku adalah karya Asli dan Penulis adalah pemilik penuh hak ciptanya. Tidak diperkenankan karya hasil plagiat, saduran dan mengandung unsur SARA.
2. Karya bisa berupa karya baru yang belum diterbitkan atau karya lama yang sudah pernah diterbitkan, namun hak cipta sudah kembali milik penulis.
3. Karya bisa berupa fiksi, nonfiksi baik ditulis perorangan atau kelompok.
4. Kirimkan sinopsis, naskah isi, dan profil penulis (cantumkan asal pimpinan Muhammadiyah nya, misal: anggota PR Banyuresmi/anggota PD Kota Bandung) dalam file terpisah yang dilampirkan di email.
6. Naskah diketik rapi di Ms. Word ukuran A4, dengan font Times New Rowman, ukuran 12pt, Spasi 1,5, margin standard.
7. Naskah adalah utuh dan siap terbit dengan ketebalan minimal 60 halaman isi, dan maksimal 200 halaman. Bila kurang atau lebih dari itu, silakan konsultasikan dengan redaksi.
Kirim naskahmu ke email redaksi.bukumu@gmail.com
Ditunggu sebelum 15 April 2017 berakhir.
Ayo kita bangkitkan budaya literasi Muhammadiyah melalui GERAKAN MUHAMMADIYAH MENULIS!
Terbitkan bukumu di BukuMu!

Kebaikan Akan Kembali Padamu dengan Berbagai Cara

0

A True Story of Giri Fajar Wibawa, DA11pa (A, teu kudu menta izin caritana ditulis nya. He2. Peace..).

*

~Sarijadi, Bandung, Juli 2002~

Tiba-tiba datang seorang laki-laki separuh baya. Tanpa ragu dia yang sama sekali belum kukenal langsung menyuruhku keluar dari kolong mobil yang sedang kuperbaiki. Tanpa persiapan apa-apa dengan baju kotor penuh oli, ku harus menjawab, “Iya, betul saya Giri. Bapak siapa?”

“Tak usah banyak tanya. Kamu bos perusahaannya kan? Ga pantes seorang bos kotor-kotor di kolong mobil kaya gitu. Besok kamu datang ke kantor saya. Ikuti alamat di kartu nama ini.”

Tanpa menunggu jawabanku orang gila itu bergegas pergi. “Sinting!”

*

~Sudirman, Jakarta, Juli 2002~

“Ya, kamu harus di sini barang tiga minggu, lihat bagaimana cara kami bekerja kalau mau maju. Ga bisa urus perusahaan kaya gitu. Kalau masih goblok, mau tidak mau kamu harus belajar lagi Akuntasi.”

Ternyata orang sinting ini adalah bos teman kuliahku dulu, si Pepeng. Ga terlalu dekat sebetulnya, tapi dia dikenal gemar menolong dan memajukan teman dengan caranya sendiri, seperti dengan menjerumuskanku kali ini.

*

Lima belas tahun berlalu.. Kuikuti nasihatnya untuk ambil kuliah Akuntansi dan alhamdulillah omzet perusahaanku meningkat beribu kali lipat dibanding ketika Pak Sinting itu menemuiku di kolong mobil. Sekarang aku berada di posisi yang tidak akan pernah dibayangkan oleh teman-temanku dulu juga oleh guru-guru semasa sekolah. Saat ini apapun bisa kudapatkan..
kecuali satu: anak.

Tak perlu kuceritakan di sini betapa kumenginginkan seorang anak dan bagaimana rasanya gelisah, sedih, cemas, penuh harap menunggunya. Tapi sebagai seorang beragama, aku diajarkan untuk tidak berlama-lama larut dalam perasaan negatif semacam itu. Saatnya berbuat!

*

~Garut, Desember 2016~

Dengan mantap mengucap bismillaah kutancap gas Pajero Sport terbaruku menuju Garut bersama istri tercinta. Kuhubungi temanku yang menjadi Pembina di Pondokku dulu untuk meminta petunjuk siapakah di antara anak didiknya yang dapat kubantu.

“Ada, namanya Rena. Anaknya baik dan pinter. Seorang yatim-piatu yang sejak kecil dibesarkan oleh Neneknya. Kalau hatimu mantap, mari kita bertemu Neneknya segera. Niat baik jangan dinanti-nanti.”

“Oke,” bari deg-degan. “Bismillaah..bismillaah…bismillaahirrahmaanirrahiim..”

“Nek, dulu ayahnya Rena kerja di mana?”

“Ah Nenek gatau persis, da damelna teh masang-masang kipas angin kitu gening..”

“AC panginten Nek..?”

“Tah eta panginten..da kuliahna teh jurusan eta.”

“Di mana?”

“Poltek ITB.”

“Angkatan sabaraha?”

“Pokonamah pami ayeuna aya keneh, yuswana 40 tahunan..”

*Gebegggg!!! *Efek: hujan petir dor-dar gelap..jendela buka-tutup tertiup angin.. Eta sakelas jeung urang!!! ((((Rena binti Pepeng!))))—zzoom in–zoom out—zoom out–zoom in–

Setelah Pepeng meninggal, Ibunya membawa Rena dan kedua adiknya pulang ke Garut, kampung halaman mereka. Dua tahun setelah di Garut, Ibunya pun meninggal, meninggalkan Rena dan kedua adiknya yang masih kecil-kecil. Semuanya telah Allah Atur, dengan segala keterbatasan yang ada, lepas SD Rena berhasil melanjutkan sekolah ke DA, yang merupakan amanat Kakeknya……….yang – meninggal – pula – beberapa waktu sebelum Rena tamat SD. Rena dan kedua adiknya dibesarkan oleh Single-Grand Parent.

“Ya Allah.. Rabb..Sang Pemelihara..terima kasih atas segala yang telah Kau Berikan. Sungguh Kasih-Mu tiada terkira. Kau Pertemukan hamba dengan anak-anak sahabatku yang telah Kau Panggil lebih dulu. Mudah-mudahan hamba dapat menjaga amanah-Mu sebaik-baiknya. Bila Kau Berkenan, mohon sampaikan salam untuk sahabatku di alamnya, Beritahu dia bahwa semua anak-anaknya baik-baik saja.”

Epilog

Sahabat, kita tidak pernah tahu kapan akan meninggalkan anak-anak kita. Allah Maha Kuasa menjadikan mereka, yatim-piatu —kapanpun, ka-pan-pun. Namun Allah jualah Yang Berkuasa Membalas setiap kebaikan yang pernah kita lakukan. Setiap kebaikan akan kembali kepadamu dengan berbagai cara.

*

Tulisan ini didedikasikan untuk kedua sahabatku yang tengah berjuang melawan sakit begitu berat dan lama, Siti Tuti Aisyah dan Wita Hartati (DA3pi).

*
Bandung, 23 Januari 2017
~firmanarief
(Ditulis oleh Denden Firman Arief, DA 15 Putra) diambil dari status facebooknya.

 

Indonesiaku Sedang SAKIT

0
Dua orang remaja melakukan perang bantal di sungai Cikapundung, Bandung, Sabtu (17/8/2013). Perang Bantal tersebut dalam rangka meramaikan HUT RI yang ke 68.

 

Dua orang remaja melakukan perang bantal di sungai Cikapundung, Bandung, Sabtu (17/8/2013). Perang Bantal tersebut dalam rangka meramaikan HUT RI yang ke 68.

Hamparan luas dari Sabang sampai Merauke, bermacam – macam agama, suku, bahasa, adat, budaya dll. TAPI, Indonesiaku sedang menuju perpecahan antara agama, antara suku, antara adat dll.

Semua ini hanya demi isi perut, semua menjadi halal dilakukan. tak peduli saudara, kerabat, teman. Karena mereka takut tidak makan, tidak mempunyai mobil, tidak punya rumah, tak bisa menyekolahkan anak-anaknya.

Mereka sudah tidak percaya kepada Sang Maha Pemberi Rezeki!!

#Ikadampreneur: Nangkau Coldbrew Coffee, Akbar Rizqi angkatan 31

0

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Hallo para Ikadam semua dekade yang saya banggakan, perkenalkan saya Akbar Rizqi atau sering dipanggil Aang atau Rizqi Akbar. Saya berada di dekade 3, tepatnya di angkatan 31. Alhamdulillah saya lulus 6 tahun bersama teman teman yang lainnya, dan sekarang saya kuliah di Universitas Langlangbuana,

Saya menulis artikel ini bertujuan untuk mempromosikan produk yang sedang saya jual sekarang. Bersama teman saya Gamma Musa yang kebetulan satu angkatan juga, kami berdua sedang mendalami bisnis kopi. Banyak juga para ikadam yang sudah berkecimpung di dunia kopi, seperti kang Fammy Simaung, Kang Umed Karoehoen dan masih banyak lagi yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Tapi disini saya tidak akan memperkenalkan produk kopi yang seperti Kang Fammy dan Kang Umed pasarkan.

Pada dasarnya sama, kalo saya menjual kopi nusantara. Namun perbedaannya saya menjual kopi ini dengan kemasan yang berbeda. Ya, KOPI NANGKAU. Aneka kopi nusantara yang dikemas menarik dalam sebuah botol yang selintas kalo orang lihat kopi tersebut menyerupai minuman keras. Kopi Nangkau itu sendiri berjenis Kopi Cold Brew atau kopi yang cara membuatnya dengan merendam bubuk kopi di dalam air bersuhu ruangan hingga lebih dari 24 jam untuk menghasilkan larutan konsentrasi kopi yang kemudian dicampur dengan air, biasanya dengan komposisi 50% dan disajikan dalam keadaan dingin. Air dingin yang digunakan untuk memproses biji kopi akan mengubah profil kimia dari biji kopi dan menghasilkan cita rasa yang lebihh manis, sehingga buat para ikadam tidak perlu menambahkan gula atau perasa yang lain.

Beginilah rupa dan wujud produk yang saya akan promosikan kepada para akang akang Ikadam semua. Kopi Nangkau sendiri berharga Rp. 50.000 saja. Jadi buat para Ikadam yang pengen ngopi ngopi tapi males mampir ke caffe atau belum sempat beli stock kopi nusantara ataupun pengen ngopi dimanapun dan kapanpun tanpa membawa gelas kemana mana, saya kira Kopi Nangkau akan menjadi solusi bagi akang akang semua. Kemasannya pun ga akan kalah dengan aneka miras diluaran sana, karna saya sengaja mendesign kopi ini agar tidak kalah bersaing dengan minuman keras yang jelas oleh agama. Kopi Nangkau ini jelas 100% halal  dan 100% ketagihan. Saya memiliki berbagai macam aneka kopi nusantara diantaranya :

  • Kopi Nangkau Aceh Gayo
  • Kopi Nangkau Flores
  • Kopi Nangkau Robusta Flores
  • Kopi Nangkau Papua Wamena
  • Kopi Nangkau Toraja
  • Kopi Nangkau Mandailing
  • Kopi Nangkau Garut

Bagi akang akang yang berminat untuk icip icip atau mengkonsumsi dalam jangka panjang, bisa hubungi :

  • Line : @rizqiakbar58
  • WA : 085793286085
  • IG : @kopi_nangkau

Mungkin cukup sekian artikel singkat ini dari saya. Mohon maaf bila ada perkataan yang kurang berkenan, jadi enak kalo akang akang jadi pelanggan hehe. Terima kasih, Wassalamualaikum Wr.Wb

Video #Reuni3Dekade Ikadam

1

Dokumentasi Makrab #5 Ikadam Bandung

0

Makrab ke 5 Alumni Ma’had Darul Arqam Muhammadiyah daerah Garut untuk daerah Bandung. Makrab kali ini diselenggarakan di daerah Lembang D’Camp (Nurul Fikri).
oleh Ryan Sani (DA 29 Putra)

Qum! Ada yang Tertinggal di Pondok Kita

0