Cover Buku Capruk for the Soul #1

Ditulis oleh: Dadan Ramadhan, Angkatan 13 Putra (1990-1996)

Sejak hari itu, aku tak lagi tinggal bersama mereka. Ya, mereka yang selama ini
kusayangi. Ayah, ibu, kakak, adik, om, tante, uwa, sanak saudara, dan teman-teman.
Aku menangis saat mereka pamit pulang. Tangisanku semakin menjadi saat ayah
mengelus rambutku sambil berpesan,”Sing junun diajar …!” Hanya itu! Ya, pesan
singkat yang tak berbasa-basi namun mampu menghantam relung sanubariku yang
paling dalam. Saat mereka melambaikan tangan, aku semakin menangis. Tangisan
pertamaku!
Sejak hari itu, aku memiliki banyak teman. Ada yang pendiam, lucu, belagu, jaim, dan
macam lainnya. Perlahan, aku mulai merasa betah. Merasa nyaman. Merasa ada
kawan. Merasa tak sendiri lagi. Aktivitas demi aktivitas kujalani. Main bola, pingpong,
silat, lari pagi ke irigasi, jalan-jalan ke Cipeujeuh, ngojay di Ngamplang, ngarujak di
rumah Jamil, dan yang lainnya.
Sejak hari itu, dinding kamar mandi, WC cemplung, ruang makan, dapur, kelas,
jemuran, lapangan bola, asrama, masjid, menjadi saksi-saksi sunyi yang setia
mengiringi hari-hariku. Hari-hari penuh ilmu. Hari-hari penuh keceriaan. Hari-hari
penuh canda. Hari-hari penuh semangat. Hari-hari penuh cinta!
Sejak hari itu, aku diperkenalkan pada dunia yang sebelumnya tak kuketahui. Dunia
Nahwu, Sharaf, Tafsir, I`rob, Mahfudhot, Imla, Tajwid, Fikih, Akidah, dan yang
lainnya. Dunia yang sangat mahal dan tak terhingga nilainya. Berbahagialah bagi
mereka yang pernah mencicipinya. Dan … waktu enam tahun pun serasa kapal jet yang
bergerak cepat! Sangat singkat kulewati! Aku pun pamit diri.
Sejak hari itu, aku tidak lagi tinggal di asrama. Tidak lagi bersama teman-teman. Tidak
lagi bergegas ke kelas dari Lima subuh hingga Sembilan malam. Tidak lagi mendengar
derap langkah terumpah khas milik Kyai Miskun (alm). Tidak lagi mengantre di ruang
makan. Tidak lagi … akh, banyak hal yang tidak lagi kurasakan. Dan … aku pun
menangis seraya berucap kepada Allah Yang Maha Baik, “Alhamdulillaahi rabbil
`aalamiin ….!” Tangisan keduaku!
Cibiru Asri, penghujung April `11